Jumat, 13 Agustus 2010

Take Decision When You Are Happy

Sebenarnya teknik ini bukanlah sebuah teknik yang baru dan bahkan sering dilakukan juga oleh kebanyakan orang.
Namun ada hal yang sangat berbeda ketika dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu
1.Teknik ini sering dilakukan tanpa disadari
2.Teknik sering dipakai untuk hal-hal yang negatif dan tidak bermanfaat untuk perkembangan diri.

Teknik apakah itu?
Sabar dong, nanti Anda juga akan mengatakan bahwa itu sih teknik yang sering saya lakukan.

Ok, mari kita lihat teknik ini. Tapi saya ingin mengajak Anda untuk melihat pemakaian teknik ini pada kebanyakan orang, yang pemakaiannya untuk hal-hal yang negatif.

Contoh:
Apa yang sering dilakukan orang yang putus cinta?
Dalam kondisi emosi marah, kesal, jengkel, dan sakit hati yang memuncak, mereka sering mengambil sebuah keputusan yang keliru dan negatif. Sang laki-laki sering mengatakan, ”Perempuan suka ngatur” dan perkataan yang sejenisnya. Seringkali malah over generalisasi dengan mengatakan, ”Semua perempuan sama menjengkelkan” . Sang perempuan sering tak mau kalah dengan mengatakan, ”Laki-laki suka bikin sakit hati” atau over generalisasi ”Semua laki-laki ndak ada yang bisa dipercaya”.

Perkataan-perkataan seperti itu bukan hanya sekedar sebuah kata-kata, seringkali adalah sebuah keputusan. Yang lebih parah lagi adalah keputusan itu sering diambil pada level bawah sadar, keputusan itu sering diambil tanpa disadari.
Hal ini bukan saja terjadi terhadap orang yang lagi pacaran, tapi juga sering terjadi pada pasangan suami-istri. Banyak pasangan suami-istri yang hubungannya menjadi semakin tidak harmonis, karena seringnya mengambil kesimpulan-kesimpulan dari adanya beberapa konflik. Dan kesimpulan itu tanpa disadari telah menjadi sebuah keputusan, dan kemudian menjadi believe system. Jika sudah demikian, maka tak heran, selalu saja ada beberapa perubahan perilaku tertentu yang terjadi ketika berhadapan lagi dengan suami atau istri. Dan ini akibat dari sebuah keputusan yang diambil di saat emosi negatif yang memuncak, dan kemudian menjadi believe system.

Jika kita melihat dalam skala yang lebih luas lagi, keputusan negatif ini sering terjadi bukan saja pada sebuah hubungan lain jenis, tapi juga terjadi pada banyak keadaan. Keadaan itu biasanya mempunyai ciri yang sama, yaitu terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan terjadinya rasa sakit hati, marah, jengkel, rasa bersalah, dan kepedihan yang memuncak.
Di saat inilah kebanyakan orang mengambil sebuah kesimpulan atas peristiwa tersebut, dan kesimpulan tersebut tanpa mereka sadari adalah sebuah keputusan yang kemudian terjadi peng-installan dibagian believe system mereka. Walhasil, dari hal inilah terjadi sebuah perubahan perilaku tertentu yang tentu saja akan bersifat alami bagi sang pengambil keputusan.

Perilaku tersebut bersifat alami, karena perubahan perilaku itu tidak disadari oleh sang pengambil keputusan.
Mari kita lihat lagi sebuah contoh:
Begitu banyak orang yang ketika melakukan sesuatu sering mengalami kegagalan. Seringnya kegagalan yang dialami mengakibatkan emosi negatif terpicu dan mencapai kondisi puncak. Di saat inilah sering diambil sebuah kesimpulan dan kemudian menjadi sebuah keputusan yang tidak disadari, yaitu ”Apapun yang saya lakukan pasti gagal lagi.”
Keputusan ini sering diambil tanpa disadari, dan karena tidak disadari maka perubahan perilakunya pun akan tidak disadari dan dianggap sebagai sesuatu yang alami dan wajar. Apa perubahan perilaku yang terjadi? Seringkali sang pengambil keputusan akan melakukan respon menolak jika menghadapi lagi sebuah usaha. Respon menolak ini sering dilakukan secara wajar dan alami. Entah kenapa, selalu saja muncul rasa takut gagal, yang kemudian memicu respon menolak. Dan jika ada yang mengatakan, ”Kenapa sih, kamu takut gagal?” Maka akan sering dijawab dengan jawaban yang bersifat pembelaan terhadap diri sendiri dan tidak mengakui bahwa sudah terjadi sebuah perubahan perilaku pada dirinya.

Inilah keputusan-keputusan yang diambil dari berbagai rangkaian peristiwa yang memicu emosi negatif yang memuncak.
Jika ada keputusan negatif dan tidak bermanfaat, adakah keputusan yang positif dan bermanfaat? Jawabannya adalah ada.

Sederhana saja, jika ada sebuah peristiwa yang memicu emosi negatif yang memuncak, tentu saja dalam kehidupan kita juga ada peristiwa yang memicu emosi bahagia yang memuncak. Dan jika selama ini begitu banyak orang yang jarang mengambil keputusan disaat bahagia, maka cobalah untuk membuat sebuah kebiasaan baru, yaitu mencoba mengambil keputusan penting dan bermanfaat disaat merasakan kebahagiaan yang memuncak. COBALAH!

"Try It Maybe It Works For You"

Kamis, 12 Agustus 2010

Pribadi To Do, To Have & To Be

“Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain.” (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya.

Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan yaitu:
1.Saat dimana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do).
2.Saat dimana orang memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have).
3.Saat dimana orang giat mencari makna hidup (to be).
Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama,fase To Do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan.
Ilustrasi: Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia pun terus mendayung dengan semangat. Dan akhirnya sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, “Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis.” Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

Fase kedua, fase To Have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkimpoian, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. “Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya…,” katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase To Be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup

Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan.

John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan “Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih MATANG, lebih BERMAKNA dan BERKONTRIBUSI!

Mari Belajar dari Beruang

SEEKOR beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu pun ikan yang berhasil ia tangkap.

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya... hup... ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan. Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku."

"Mengapa," tanya sang beruang.

"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sang ikan.

"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.

"Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu," kata ikan.

"Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya beruang.

"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

"Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!" jawab beruang sambil tersenyum mantap.

"Ops!" teriak sang ikan, nyaris tersedak.

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau MEMBUKA HATI dan MATA kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja.
Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap : "Ohhh....Andaikan aku tidak menyia-yiakan kesempatan itu dulu...?"

Oleh karena itu BIJAKSABALAH pada hidup, hargai setiap detail kesempatan dalam hidup kita.
-Di saat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;
-Di saat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan;
-Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali;
-Dan selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.

"Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar."

"Untuk Sukses Butuh KEMAUAN Yang Kuat"

"Kenapa sering kali di tengah jalan kita kehilangan motivasi dalam mengerjakan suatu tugas?"
"Kenapa di tengah jalan kita mendadak jadi males?"
"Kenapa kita tiba-tiba tidak fokus dan pengen rasanya untuk give up?"

Untuk menjawab ini, ada 1 ilustrasi simple yang dapat menjadi contoh:

1. Bayangkan anda ingin INGIN SEKALI untuk bekerja di suatu perusahaan yang memang sudah anda dambakan sejak dulu anda kuliah. Tiba-tiba suatu saat anda dipanggil untuk interview oleh perusahaan tersebut.
Misalkan rumah anda di Kelapa Gading,dan interviewnya di Pondok Indah. Di tengah jalan ban mobil kempes dan terpaksa harus didongkrak, ganti ban, keringetan, cape.
Setelah itu,...menurut Anda, apa yg akan Anda lakukan?
Pulang ke rumah?? TENTU TIDAK
Lanjut ke interview? Saya YAKIN anda pasti akan melanjutkan perjalanan untuk interview, right?

2. Bayangkan di hari Minggu anda ngga tau lagi mau ngapain. Trus Anda berpikir, "Ke Plaza Senayan ah...cuci mata".
Kejadiannya sama, Anda pergi dari rumah di Kelapa Gading, dan ditengah jalan ban mobil Anda kempes. Anda harus dongrkak, ganti ban, keringetan, cape.
Setelah itu,...menurut Anda, apa yang akan Anda lakukan?
Chancenya mungkin 50-50 untuk lanjut ke Plaza Senayan atau pulang ke rumah, atau malah ke mall yang lain: Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Pacific Place.

Ilustrasi pertama menceritakan tentang betapa pentingnya interview tersebut untuk kita,oleh karena itu kita berusaha untuk terus maju walaupun sudah keringatan.(pada kondisi ini kemauan kita kuat dan penuh karena hal tersebut penting.)

Ilustrasi kedua menceritakan bahwa pada kondisi ini kita dapat memilih mana yang kita inginkan karena hal tersebut memang tidak penting. (pada kondisi ini kemauan kita tidak kuat.)

Di kedua ilustrasi ini yang ingin ditekankan adalah "Untuk Sukses Butuh KEMAUAN Yang Kuat".
Halangan pasti ada, seperti kiasan yang tertulis di buku "Young On Top" by Billy Boen:
"Tidak ada jalan yang semulus sutera."

Kalau kita punya keinginan yang KUAT, maka halangan/rintangan yang kita temui hanya menjadi sebuah kerikil kecil yang mungkin memperlambat laju kita, tapi BUKAN membuat kita berhenti total dan menyerah. Kita akan 'MELIHAT' halangan/rintangan hanyalah sebuah tantangan biasa yang akan kita hadapi dengan senang hati.

Artinya TANPA keinginan yang kuat, maka halangan/rintangan tersebut dengan mudah akan membuat kita berhenti total dan menyerah.

FIND OUT WHAT YOU WANT!!!
TRUST ME...semuanya akan terjadi secara 'otomatis'...
Kalau punya keinginan KUAT,kita akan BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN...kalau harus terjatuh,kita akan bangkit dengan sendirinya!

See you ON TOP all!
Saya yakin semua bisa BERHASIL

by Billy Boen